Maret 31st, 2009
in
Umum |
Pada tanggal 24 s/d 31 Agustus 2008 saya berkesempatan mengikuti study banding Kesehatan Ibu dan Anak di Malaysia dan Vietnam. Saya merupakan satu-satunya wakil peserta dari Puskesmas diantara 20 orang peserta. Peserta yang lain terdiri dari 3 orang Depkes Pusat, dan para Kepala Dinas/Kasubdin/Kabid Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten dari 10 Propinsi. Negara Malaysia yang jumlah penduduknya kecil dengan income perkapitanya tinggi, infrastruktur yang bagus serta sistem kerajaan dimana semua peraturan-peraturan yang dibuat oleh Kementerian Negara bisa berjalan dengan baik. Hal utama yang dibangun adalah dalam membuka akses dimana Kerajaan Malaysia membangun transportasi hampir 100% desa dapat terakses dengan kendaraan roda 2 dan roda 4.Negara Malaysia dalam pembangunan kesehatan sangat konsisten sekali dalam pembiayaan sarana dan prasarana juga kesejahteraan tenaga kesehatannya. Kuala Selangor dengan jumlah penduduk 190.800 jiwa dengan penyebaran penduduk kurang dari 15 tahun 35,7 %, 15 – 64 tahun 60,2% dan di atas 65 tahun sebesar 4,1% mempunyai kepadatan 135.8 km2 merupakan salah satu kabupaten di negara bagian Malaysia dinilai telah berhasil dalam program KIA yang ditunjukan menurunanya AKI dan AKB. Kabupaten tersebut mempunyai 5 Klinik Kesehatan (Puskesmas) dengan minimal tenaga dokter 2 orang dan 22 Klinik Desa (Puskesmas Pembantu) dengan minimal tenaga perawat 2 orang yang mampu memberikan pelayanan kebidanan. Pada umumnya semua persalinan direncanakan untuk dapat bersalin di fasilitas kesehatan (Puskesmas maupun RS), dimana tugas dari perawat di Klinik Desa memberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan (ANC) untuk selanjutnya semua ibu hamil dapat memeriksakan kehamilannya minimal di Puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dari seorang dokter lengkap menggunakan USG dan pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan ditulis ke dalam kohort ibu dan 2 buku semacam buku KIA yang disimpan satu pada tenaga kesehatan dan yang lainnya pada ibu hamil. Pada keadaan darurat perawat di klinik desa dapat memberikan pertolongan persalinan normal dan bahkan pertolongan sementara kegawat daruratan untuk segera melakukan kegiatan rujukan ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi. Kultur budaya pada umumnya tidak jauh berbeda dengan kabupaten-kabupaten di Indonesia, mereka lebih unggul dalam sosio ekonomi dan adanya kebijakan pemerintah yang sangat mendukung dalam penyediaan budget operasional pelayanan kesehatan. (misal mereka cukup membayar 1 RM untuk mendapatkan pelayanan paripurna dan bila membutuhkan perawatan hanya dikenai tarif 3 RM per hari dengan tidak memungut biaya jasa lainnya) bagi masyarakat miskin seluruhnya ditanggung negara, masyarakat miskin ditentukan dengan indikator penghasilan < 175 RM/ bulan. Mereka juga telah mempunyai kebijakan tarif bagi WN Malaysia maupun WNA di mana WNA dikenai biaya 3 kali lebih besar. Keadaan ini menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan akses pelayanan. Kota Ho Chi Min menunjukkan kota dengan tingkat kemajuan ekonomi yang cukup tinggi dalam perkembangannya sebagai kota di negara yang sedang berkembang, demikian pula dengan indikator kesehatan khususnya yang berkaitan dengan program KIA. Sejak merdeka mereka telah membangun disegala bidang dengan dukungan penuh masyarakat yang komunis. Ada beberapa hal menarik dibidang kesehatan yang ditemui di Vietnam antara lain:· Aborsi dilegalkan sehingga angka aborsi di negara ini berkisar antara 1,2 juta s/d 1,6 juta per tahun. Biaya aborsi juga gratis apabila dilakukan di klinik atau RS Pemerintah. Biaya aborsi di klinik/RS swasta juga tidak mahal hanya 100.000-200.000 VD ( sekitar Rp56.000,- s/d Rp112.000,-).· Biaya berobat dan persalinan semua penduduk di pelayanan kesehatan dasar pada institusi pemerintah gratis sedangkan biaya pengobatan untuk masyarakat miskin juga gratis di semua tingkat pelayanan.
· Dukun di daerah-daerah terpencil dilatih selama 3 bulan di rumah sakit dan dibenarkan menolong persalinan dengan menggunakan obat misoprostol untuk induksi persalinan.
(dr. I Nyoman Kesuma, MPH)
Share and Enjoy:
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
Oktober 22nd, 2009 at 00:49
Wahh..asyik juga ya bisa study banding ke luar negeri. Bagi-bagi dong oleh-olehnya. Terimakasih telah turut berbagi pengalaman. Salam dari KEndari, Sultra
Januari 1st, 2010 at 17:49
bolehkah kita bertanya. Kayaknya studi banding tersebut dari depkes ya dok. Apakah tiap tahun selalu ada jadwal studi banding dari depkes? biasanya tiap bulan apa? Makasih.